Solusi Cerdas Mengatasi Tawuran antar Pelajar

LOMBA KARYA TULIS ILMIAH

DIES NATALIS IAIN KE-51

 JUARA III

 

“SOLUSI CERDAS MENGATASI TAWURAN ANTAR PELAJAR”

 

 

 

 

Disusun oleh :

Umi Hanik                                         : D04209062   (2009)

Eki Tirtana Zamzani                   : D04209059   (2009)

 

 

 

 

 

 

 

 

IAIN SUNAN AMPEL FAKULTAS TARBIYAH

SURABAYA

2012

 

 

HALAMAN PENGESAHAN

 

  1. Judul                                   : Solusi Cerdas Mengatasi Tawuran antar Pelajar
  2. Bidang                                : Pendidikan
  3. Penulis
  4. Nama Lengkap                : Umi Hanik
  5. NIM                                     : D04209062
  6. Fakultas / Jurusan        : Tarbiyah / Pendidikan Matematika
  7. Nama Perguruan Tinggi: IAIN Sunan Ampel Surabaya
  8. Alamat Rumah                 : Jl. Hasanudin 17/91 Pasuruan
  9. No.Telp./Hp                      : 085 730 650 _ _ _
  10. Alamat Email                    : hanaruhana91@gmail.com
    1. Dosen Pembimbing                                  :
    2. Nama Lengkap dan Gelar       : Ahmad Lubab, M.Si
    3. NIP                                                  : 198111182009121003
    4. Alamat Rumah                           : Tuban
    5. No.Telp/Hp                                 : 081 654 793_ _

Surabaya, 15 Desember 2012

Menyetujui

Kepala Jurusan Pendidikan Matematika                                             Penulis

Dr. Asep Saipul Hamdani, M.Pd                                                       Umi Hanik

NIP. 196507312000031002                                                               D04209062

 

KATA PENGANTAR

            Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah menganugerahkan akal dan fikiran kepada manusia, sehingga dengan penggunaan otak dan fikiran secara baik dan benar manusia menjadi makhluk yang lebih unggul dari yang lainnya. Samudera sholawat serta salam semoga  terus bermuara pada baginda Rosul Muhammad SAW, pahalawan terhebat di dunia yang membawa perubahan besar dalam sejarah hidup manusia, dari kejahilan menuju peradaban manusia yang lebih bermartabat dengan bendera agama islam.

Penulisan karya ini ditujukan untuk mengikuti lomba karya tulis ilmiah sebagai rangkaian acara “Dies Natalis IAIN Sunan Ampel Surabaya ke-51”. Penulis merasa perlu untuk menulis karya ini dengan sebaik-baiknya dalam rangka pengabdian kepada kampus yang melahirkan pikiran akademis penulis sendiri.

Tak lupa kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada ;

  1. Allah SWT dan orang tua yang menjadi motivator terbesar dan juga senantiasa mendoakan penulis agar dapt bermanfaat ilmu dan amalnya dimanapun dan kapanpun.
  2. Bapak  yang telah membimbing penulis dalam melahirkan karya tulis  ini.
  3. Rekan Rangga Sa’adillah, S.Pd.I dan rekan Winarto Eka Wahyudi yang sudi membagi ilmu dan pengalamannya demi kesuksesan karya tulis ini.
  4. Dan teman-teman Pendidikan Matematika yang terus mensuport penulis agar lebih baik dan tetap semangat dalam menuliskan karya tulis ini.

Masih banyak kesalahan dalam penulisan karya tulis sederhana ini, sehingga saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan karya di masa mendatang. Terimakasih.

Penulis,

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………….. i

Lembar Pengesahan……………………………………………………………………….. ii

Kata Pengantar……………………………………………………………………………… iii

Daftar Isi……………………………………………………………………………………… iv

Ringkasan …………………………………………………………………………………….   v

PENDAHULUAN…………………………………………………………………………  1

Latar Belakang Masalah………………………………………………………………….  1

Rumusan Masalah…………………………………………………………………………..  2

Tujuan dan Manfaat Penulisan…………………………………………………………  2

Luaran yang diharapkan …………………………………………………………………   2

TINJAUAN PUSTAKA…………………………………………………………………   3

Peranan Penting Pendidikan Karakter……………………………………………….  3

Tawuran : Wujud Demoralisasi Pelajar di Indonesia……………………………  4

METODE PENULISAN………………………………………………………………..   5

Jenis Penulisan ………………………………………………………………………………   5

Obyek Penulisan…………………………………………………………………………….  5

Teknik Analisis………………………………………………………………………………  5

HASIL dan PEMBAHASAN ………………………………………………………..   6

Tawuran antar Pelajar sebagai Masalah Nasional………………………………..  6

Akar Masalah dari Tawuran antar Pelajar…………………………………………..  8

Pendidikan Karakter sebagai solusi………………………………………………….. 10

KESIMPULAN dan SARAN………………………………………………………… 14

Kesimpulan…………………………………………………………………………………… 14

Saran …………………………………………………………………………………………… 14

Daftar Pustaka

Lampiran – Lampiran

RINGKASAN

Pendidikan Karakter Solusi Cerdas Tawuran antar Pelajar

Berbagai media massa di Indonesia serempak memberitakan kasus tawuran antar pelajar. Tawuran menjadi suatu jalan bagi pelajar untuk menyelesaikan permasalahan. Pelajar kita lebih memilih jalan kekerasan dari pada jalan-jalan damai. Hal ini tentu menjadi keperihatinan kita semua. Karena hal itu membuktikan lunturnya nilai-nilai persatuan dan kesatuan di Indonesia. Dampak yang ditimbulkan juga tidak sepele. Banyak korban tawuran berjatuhan baik itu korban luka-luka ataupun korban yang meninggal. Kasus tawuran antar pelajar sudah menjadi masalah nasional yang harus segera ada solusinya.

Pribahasa mengatakan tidak akan ada asap sebelum ada api. Dari pribahasa tersebut dapat kita ambil makna bahwa terjadinya suatu akibat adalah karena adanya suatu sebab. Jadi pasti ada penyebab terjadinya tawuran antar pelajar. Penyebab terjadinya tawuran antar pelajar ada dua faktor. Faktor itu ada yang dari diri pelajar itu sendiri ( internal). Dan ada juga faktor dari luar (eksternal). Untuk faktor internal dari pelajar meliputi  reaksi frustasi negatif, gangguan pengamatan dan tanggapan, gangguan cara berfikir, gangguan emosional/perasaan. Sedangkan untuk faktor eksternal dari pelajar meliputi pengaruh dari keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar.

Pada tahun 2010 Presiden SBY menghimbau pada seluruh pengajar untuk menerapkan pendidikan berkarakter pada pelajarnya. Hal ini disebabkan runtuhnya nilai moral pelajar. Contoh konkritnya adalah maraknya kasus tawuran yang sering terjadi di Indonesia. Dalam pendidikan karakter ada nilai-nilai yang harus di pahami pelajar. Seperti nilai-nilai : (1) Toleransi, (2) Demokratis, (3) Cinta Tanah air, (4) Bersahabat /Komunikatif, (5) Cinta Damai, (6) Peduli Lingkungan, (7) Peduli Sosial.  Nilai-nilai itulah yang mulai luntur dan tidak dipahami oleh para pelaku tawuran. Jadi untuk mencegah terulangnya  kembali kejadian tawuran antar pelajar adalah dengan memahami nilai-nilai yang ada pada pendidikan karakter.

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Pelajar Indonesia yang sejatinya menjadi tolak ukur masa depan bangsa mulai kabur dari fungsi dan hakikatnya. Fungsi dan hakikat pelajar yang sejatinya memajukan bangsa dengan gudang keilmuannya dan membawa bangsa kearah yang lebih baik lagi. Namun yang terjadi sekarang, justru dengan kemajuan ilmu pengetahuan itu sendiri pelajar seakan menohok bangsa dengan berbagai penghianatan. Mulai dari kenakalan yang ditimbulkannya, kasus kriminal bahkan mencinderai nilai-nilai kebangsaan.

Kasus kriminal akhir-akhir ini banyak didalangi oleh remaja dan didominasi oleh pelajar. Mulai dari tawuran, narkoba, pelecehan seksual, miras dan lain- lain. Menurut data Komnas Perlindungan Anak[1],  jumlah tawuran pelajar tahun 2011 sebanyak 339 kasus dan memakan korban jiwa 82 orang. Tahun sebelumnya, jumlah tawuran antar-pelajar sebanyak 128 kasus. Hingga September 2012 terjadi 86 kali tawuran antarpelajar dengan 26 korban meninggal.

Berawal dari fakta-fakta diatas, maka penulis merasa perlu untuk mengungkap lebih jauh tentang kenakalan remaja yang nantinya akan berimbas pada masa depan pendidikan bagi pelajar itu sendiri. Pendidikan yang  dirancang sedemikian rupa oleh Pemerintah danstakeholder akan menjadi sia-sia jika menghasilkan output yang tidak bermutu. Sehingga pemerintah mulai mencanangkan tentang pendidikan berkarakter.

Pendidikan karakter seakan menjadi tawaran yang mampu menjawab dari sekian permasalahan di dunia pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter yang sebenarnya telah terealisasi dan terkonsep oleh Bapak Pendidikan kita Ki Hajar Dewantoro sebagai Pembangunan watak (character building) dan telah termaktub dalam ajaran islam yang dikenal dengan pendidikan akhlak tercuat kembali.

Rumusan Masalah.

  1. Kenapa tawuran antar pelajar menjadi masalah Nasional di dunia Pendidikan Indonesia ?
  2. Apa saja akar masalah dari tawuran antar pelajar di Indonesia ?
  3. Bagaiamana solusi cerdas dalam menghadapi tawuran antar pelajar di Indonesia ?

Tujuan dan Manfaat Penulisan .

Tujuan Penulisan :

  1. Untuk mengetahui dan menelaah lebih jauh tentang tawuran antar pelajar.
  2. Untuk mengetahui penyebab tawuran antar pelajar di Indonesia.
  3. Untuk mengetahui solusi cerdas dalam menghadapi tawuran antar pelajar di Indonesia.

Manfaat Penulisan :

  1. Untuk penulis sendiri, penulis bisa berlatih untuk menghasilkan karya ilmiyah, dan juga untuk aktivitas akademik penulis.
  2. Untuk pembaca. Dengan membaca karya tulis ilmiah ini pembaca dapat mengetahui tentang fakta-fakta tawuran antar pelajar di Indonesia.
  3. Untuk mengetahui solusi cerdas dalam menyikapi dan menanggulangi tawuran antar pelajar.

Luaran yang di Harapkan.

Dengan adanya karya tulis ilmiah ini, dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan dan dapat menjawab persoalan tentang tawuran antar pelajar yang marak di Indonesia.

TINJAUAN PUSTAKA

 

Peranan Penting Pendidikan Karakter.

Pada proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, para pejuang kita telah menyadari adanya tantangan besar yang harus dihadapi. Pertama, adalah mendirikan Negara yang bersatu dan berdaulat, kedua adalah membangun bangsa, dan ketiga adalah membangun karakter. Pada kenyataannya upaya  membangun bangsa dan membangun karakter dirasa berat dan harus diupayakan terus-menerus, tidak boleh putus di sepanjang sejarah kehidupan kebangsaan Indonesia

Hal itu di pertegas oleh tulisan Prof. Dr. Muchlas Samani dan Drs. Hariyanto, M.S (2011:1) mengenai pernyataan presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno:“Bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter (character building) karena character building inilah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju dan jaya, serat bermartabat. Kalau character building ini tidak dilakukan, maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli”.

Kekhawatiran para pejuang itu terbukti dengan semakin meningkatnya kasus kriminalitas atau yang sering disebut sebagai demoralisasi yakni penurunan nilai moral yang kompleks. Mulai kasus korupsi, plagiat, tawuran, miras, seks bebas dan lain sebagainya. Hal itu berarti, bangsa Indonesia butuh atas implementasi pendidikan berkarakter secara terus-menerus dan berkelanjutan.

Berkaitan dengan dirasakan semakin mendesaknya implementasi pendidikan karakter di Indonesia tersebut,  Prof. Dr. Muchlas Samani dan Drs. Hariyanto, M.S (2011:9) menjelaskan dalam bukunya, Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pendidikan  Nasional dalam publikasinya berjudul Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter (2011) menyatakan bahwa pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotic, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.

Tawuran : Wujud Demoralisasi Pelajar di Indonesia

Demoralisasi menurut kamus besar Ingris Indonesia diartikan sebagai kemerosotan akhlak; kerusakan moral[2]. Jika dikaitkan dengan pelajar, maka berati kemerosotan akhlak atau moral dikalangan remaja yang memprihatinkan semua pihak.

Demoralisasi dikalangan pelajar tentunya memiliki banyak faktor : dampak negatife dari perubahan sosial, faktor keluarga, salah pergaulan dan lain sebagainya. Melihat banyaknya faktor yang menyebabkan demoralisasi dikalangan pelajar, maka sangatlah wajar kalau dalam realita saat ini banyak terjadi bentuk-bentuk perilaku pelajar yang mengarah pada demoralisasi. Diantaranya yakni maraknya kasus tawuran antar pelajar.

Tawuran antar pelajar yang kini marak di dunia pendidikan bukan lagi sebatas isu namun sudah menjadi masalah nasional yang kompleks. Dan tentunya membawa akibat yang tidak remeh, mulai dari kematian, cacat, sampai depresi. Sehingga perlu ditangani secara terpadu dan berkelanjutan, mengingat pelajar sebagai generasi muda memiliki peran yang besar demi masa depan bangsa.

                                                        METODE PENULISAN

 

Jenis Penulisan

Penulisan ini berjenis Karya Tulis Ilmiah. Penulis tidak mengadakan penelitian.

Objek Penelitian

Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini mengambil objek melalui realitas maraknya tawuran pelajar dan mencari solusinya melalui Pendidikan Karakter.

Teknis Analisis

Penulis menggunakan analisis studi kepustakaan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

  

Tawuran antar Pelajar sebagai Masalah Nasional.

Tawuran identik dengan suatu kegiatan perkelahian atau tindak kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok atau suatu rumpun masyarakat. Itu dikarenakan, pelajar yang merasa tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang cukup dari luar, kemudian merasa tersisih, dan mereka menjadi merasa berarti ditengah gangnya. Dengan perasaan senasib dan sepengetahuan itu, secara otomatis mereka selalu menggerombol, mencari dukungan moril guna memainkan peranan sosial yang berarti dan melakukan perbuatan spektakuler secara bersama-sama, karena itulah gerombolan anak muda senang berkelahi antar kelompok supaya lebih nampak egonya.

Tawuran antar pelajar kerap terjadi hampir setiap tahunnya. Tak hanya menimbulkan korban luka, tapi juga korban jiwa. Berikut data kasus tawuran antarpelajar dari Polda Metro Jaya di sepanjang tahun 2012:

  1. 19 April 2012: Tawuran pecah di Jalan Matraman Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Guntur (17) dan Harzan Saparta (17) adalah korban luka akibat aksi tersebut.
  2. 3 Mei 2012: Satu pelajar meninggal dunia, sementara dua diantara luka-luka akibat tawuran pelajar di Jalan Ampera RT 03/05 Bekasi Timur, Kota Bekasi. Korban tewas diketahui bernama Bayu Dwi Kurniawan (16). Ia tewas dengan luka bacok di tubuhnya, sedangkan dua rekannya Rahman Aldi (17), dan Muhaji Adenan (16) dirawat akibat terkena lemparan batu.
  3. 29 Mei 2012: Tawuran pelajar SMAN 6 & SMAN 70 pecah di Bundaran Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tidak ada korban jiwa dalam tawruan ini, namun lima siswa dari SMAN 6 & dua dari SMAN 70 mengalami luka-luka. Polisi berhasil meringkus para pelajar yang terlibat tawuran tersebut. Selain itu, polisi juga mengamankan barang bukti berupa senjata tajam.
  4. 26 Juli 2012: Tawuran siswa SMA Budi Utomo dengan Santa Yoseph di Jalan Kramat Raya Senen, Jakarta Pusat. Korban bernama Roni (28). Ia mengalami luka bakar di bagian kaki kanannya akibat lemparan air keras.
  5. 29 Agustus 2012: Siswa SMP bernama Jasuli (16) meninggal dunia akibat tawuran di Stasiun Panjang Buaran Duren Sawit, Jakarta Timur. Jasuli tewas tersambar kereta Api yang melintas. Ia yang sebelumnya terlibat tawuran dengan pelajar lain itu tak menyadari akan kedatangan kereta api. Alhasil ia pun tersambar dan terseret hingga tewas.
  6. 12 September 2012: Tawuran kembali merenggang nyawa, kali ini pelajar kelas SMK Baskara Pancoran Mas Depok bernama Didik Triyuda. Ia tewas setelah terlibat tawuran di Jalan Raya Sawangan perempatan Masjid Mampang Pancoran Mas Depok.
  7. 24 September 2012: Tawuran pelajar SMAN 6 & SMAN 70 di Bundaran Bulungan, Blok M Plaza Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Korban pelajar dari siswa SMAN 6, Alawi Yusianto tewas dalam aksi tawuran tersebut. Sementara itu rekannya Ramdan Dimas dan Diaz Fahlevi mengalami luka-luka. Alawi tewas dibacok  oleh Fitra Rahmadhani, siswa dari SMAN 70.
  8. 26 September 2012: Tawuran yang merengut nyawa Deni Januar (27), siswa kelas XII SMA Yayasan Karya 66 (Yake). Ia tewas setelah dibacok di bagian perut oleh siswa STM Kartika Zeni (KZ) di Manggarai, Jakarta Selatan, Rabu siang.[3]

Data diatas merupakan sample dari sekian banyak kasus yang berhasil dilansir oleh kepolisian. Jika ditanggapi secara apatis, maka data itu tidak berarti karena memang sering mewarnai di segala bingkai berita Nasional. Tetapi, jika kita baca seksama, dari kesekian kasus itu didominasi oleh pelajar yang tak lain adalah generasi penerus bangsa. Lalu, bagaimana nasib bangsa ini, jika generasi penerusnya memiliki moral yang tidak baik. Maka hal itu, sangat memprihatinkan kita semua.

Keprihatinan itu telah menjadi masalah Nasional. Pada perayaan Hari Raya Nyepi di Jakarta tahun 2010, Presiden Republik Indonesia menyampaikan pesannya:”Pembangunan watak (character building) amat penting. Kita ingin membangun manusia Indonesia yang berakhlak, berbudi pekerti, dan berperilaku baik. Bangsa kita ingin pula memiliki peradaban yang unggul dan mulia. Peradaban demikian dapat kita capai apabila masyarakat kita juga merupakan masyarakat yang baik (good society).” [4]

Akar Masalah dari Tawuran antar Pelajar

Kegemaran tawuran secara massal diantara anak-anak sekolah lanjutan di kota-kota besar, disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

  1. 1.      Faktor Internal Tawuran Pelajar
  2. Reaksi Frustasi Negatif

Semua pola kebiasaan dan tingkah laku patologis, sebagai akibat dari pemaksaan konflik-konflik batin sendiri secara salah, yang menimbulkan mekanisme respon yang keliru atau tidak cocok.

  1. Gangguan pengamatan dan tanggapan

Adanya kedua gangguan tersebut sangat mengganggu daya adaptasi dan perkembangan pribadi anak yang sehat. Gangguan pengamatan dan tanggapan itu antara lain berupa: ilusi, halusinasi, dan gambaran semu. Disini setiap kelompok pelajar salah persepsi terhadap kelompok lain.

  1. Gangguan cara berfikir

Berfikir mutlak sebagai upaya memecahkan masalah dan kesulitan hidup sehari-hari. Bila pelajar tidak mampu mengoreksi pikiran-pikiranya yang salah dan tidak sesuai dengan realita yang ada, maka pikiranya terganggu; ia kemudian dihinggapi bayangan semu yang palsu. Lalu pola reaktifnya juga menyimpang dan tidak normal lagi.

  1. Gangguan emosional atau perasaan

Perasaan memberikan nilai pada situasi kehidupan, dan menentukan sekali besar-kecilnya kebahagiaan serta rasa kepuasan. Perasaan bergandengan dengan pemuasan terhadap harapan, keinginan dan kebutuhan manusia. Jika semua itu terpuaskan, orang merasa senang dan bahagia; sebaliknya jika keinginan dan kebutuhanya tidak terpenuhi, ia mengalami kekecewaan dan banyak frustasi. [5]

  1. Faktor Eksternal
  1. Faktor Keluarga

Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan jelas berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi anaknya, ketika remaja akan tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik

  1. Faktor Sekolah

Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya.

  1. Faktor Lingkungan

Lingkungan di antara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk (misalnya narkoba). [6]

Pendidikan Karakter sebagai Solusi Cerdas

Tawuran antar pelajar yang merupakan sekian dari berbagai bentuk demoralisasi di Indonesia tidak lain adalah bentuk kerusakan moral yang tidak bisa kita biarkan begitu saja. Patut kita renungkan pernyataan dari Robert Bellah :”Adalah suatu kepercayaan kuat bagi para pendiri Negara ini bahwa keberhasilan suatu Negara hanya dapat dicapai oleh para warga Negara yang bermoral yang dapat mempertahankan suatu pemerintahan yang demokratis”[7]

Kerusakan moral pelajar menjadi beban yang berat pada dunia pendidikan. Pendidikan yang shahih sepenuhnya merupakan ikhtiar untuk memperoleh nilai hidup, bukan nilai angka sebagaimana lazimnya saat ini. Nilai hidup tentu bukan sekedar memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi menghasilkan makna dari setiap pengetahuan yang dipelajarinya. Karena itu, bukanlah termasuk belajar yang baik, bila seseorang baru memperoleh informasi atau pengetahuan belaka. Belajar meniscayakan bagi seseorang untuk memperoleh makna dari setiap informasi yang dipelajarinya. Pemerolehan makna menjadi ukuran dari setiap proses pembelajaran. Tidak ada proses belajar, bila belum menghasilkan rekonstruksi makna baru yang dapat memberikan pencerahan bagi si pelajar[8].

Pengertian karakter menurut Prof. Suyanto, Ph.D adalah :”Cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas setiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. [9] .

Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakan bahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Bagan dibawah ini merupakan bagan keterkaitan ketiga kerangka pikir ini.

KESIMPULAN DAN SARAN

 

Kesimpulan :

  1. Tawuran antar pelajar masih menjadi cara untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi antar kelompok. Cara-cara damai dengan musyawarah belum bisa terealisasi karena masih adanya ego bagi tiap-tiap kelompok yang masih berselisih. Sehingga kasus tawuran tidak hanya sekedar isu tetapi sudah menjadi menjadi masalah nasional.
  2. Akar-akar permasalahan terjadinya tawuran antar pelajar ada dua faktor. Dua faktor itu adalah faktor internal dan faktor eksternal pelajar.
  3. Solusi tawuran antar pelajar adalah dengan gagasan presiden Susilo Bambang Yudoyono yaitu tentang Penyusunan Kebijakan Nasional Pendidikan Karakter. Dalam pendidikan karakter terdapat nilai-nilai seperti: (1) Toleransi, (2) Demokratis, (3) Cinta Tanah air, (4) Bersahabat /Komunikatif, (5) Cinta Damai, (6) Peduli Lingkungan, (7) Peduli Sosial dan (8) semangat kebangsaan. Nilai-nilai itulah yang harus ditanamkan lagi pada para pelajar untuk mencegah terjadinya tawuran lagi. Jadi pendidikan karakter merupakan solusi cerdas mengatasi tawuran antar pelajar.

Saran

  1. Pelajar di Indonesia diharapkan membuka mata lebar-lebar dan menyadari atas fungsi dan perannya sebagai generasi penerus bangsa. Sehingga tidak terjerumus pada demoralisai atau penurunan moral bangsa.
  2. Diharapkan dengan wacana  karya tulis ilmiah ini mampu memberikan masukan akan pentingnya  Pendidikan karakter dalam menanggulangi demoralisasi bangsa, khususnya tawuran antar pelajar.

[2] John M. Echols dan Hasan Shadly, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta:PT.Gramedia, cet xii), 101

[4] Prof. Dr.Muchlas Samani dan Drs. Hariyanto, M.S, Konsep dan Model Pendidikan Karakter, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya), 6

[5] Kartini Kartono, Dr. Kenakalan Remaja, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005 cet 1),  110

[7] Moch. Said, Pendidikan Karakter di Sekola, (Surabaya: Jaring pena ),82

[8] Dr. Mursidin, M.Pd, Moral ;Sumber Pendidikan, (Bandung :Ghalia Indonesia, 2011), 46

[9] Mansur Muslich, Pendidikan Karakter, (Jakarta:Bumi aksara, 2011, cet i),70

[10] Barnawi dan M.Arifin, Strategi dan Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter,(Jogjakarta :Ar-Ruzz Media, 2011), 121

[11] Prof. Dr.Muchlas Samani dan Drs. Hariyanto, M.S, Konsep dan Model Pendidikan Karakter, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya),9

DAFTAR PUSTAKA

 Barnawi dan M.Arifin, Strategi dan Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter, 2011 , Jogjakarta :Ar-Ruzz Media

Kartono Kartini,  Kenakalan Remaja, 2005 , Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Mursidin,  Moral ;Sumber Pendidikan, 2011 , Bandung :Ghalia Indonesia.

Muslich, Mansur, Pendidikan Karakter, 2011 ,Jakarta:Bumi aksara,

Said, Moch., Pendidikan Karakter di Sekolah,2010, Surabaya: Jaring pena.

Samani,.Muchlas dan Drs. Hariyanto, M.S, 2012 ,  Konsep dan Model Pendidikan Karakter, cet ii, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya

Zuchdi, Humanisasi Pendidikan, 2009 , Jakarta: PT Bumi Aksara.

 

http://kabarsore.com/berita/1842-8-kasus-tawuran-antarpelajar-di-tahun-2012.html diakses Sabtu, 15Desember 2012 pukul 06.00

Diki Zulkarnaen, Sander, 2012, Tawuran Pelajar Memprihatinkan Dunia Pendidikan,http://www.kpai.go.id/publikasi-mainmenu-33/artikel/258-tawuran-pelajar-memprihatinkan-dunia-pendidikan.html (Diakses tanggal 15-12-2012 pukul 08:00)

Categories: Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: