Rindu Rosululloh pada Bilal Bin Robbah

Oleh : Hana El-basya, beradasar ceramah Habib Taufiq Bin Abdul Qodir As-Segaf pada Haul Habib Ja’far bin Syaikhon As-Segaf Pasuruan.

Setelah wafatnya Rosululloh SAW, Bilal tak lagi tinggal di Madinah. Karena ia tak kuasa menahan rindu di kotanya Rosul. Dia sekeluarga tinggal di kota Syams. Dan pada kepemimpinan kholifah Abu Bakar As-Shidiq tepatnya setahun setelah waffat Rosul, terjadilah gejolak pada diri Bilal.

Ketika bangun tidur, dia menangis sesenggukan. Istrinya khawatir dan memberanikan diri untuk menanyakan perihal tangisan suaminya. “Wahai Bilal, gerangan apa yang membuatmu menjadi sesedih ini ?”, tanya istri Bilal. “Aku bermimpi bertemu RosuluLloh, kemudian RosuluLloh menegurku  ‘ Wahai Bilal, mengapa engkau menjauh dariku, tak inginkah kau berziarah pada ku ? ‘ aku tak kuasa menjawabnya, hingga aku terbangun” jawab Bilal. Sesegera mungkin Bilal bersiap-siap untuk berziarah kemakam RosuluLLoh di Madinah.

Sesampai disana, Bilal menangis terngiang akan kenangan bersama Rosul. Dia tempelkan wajahnya dikuburan Rosul dan menciuminya. Kabar kehadiran Bilal di Madinah, telah di dengar oleh para sahabat.

Sahabat Abu Bakar As-Shiddiq menyusulnya. setelah berjabat tangan dan berpelukan, Abu Bakar pun mengungkapkan keinginannya. “Wahai Bilal, sudikah engkau untuk mengumandangkan adzan, sebagaimana engkau adzan untuk Nabi,” ungkap Abu Bakar. Bilal yang saat itu menangis teringat akan kenangan bersama Rosul menjawab ; ” Wahai sahabat Nabi yang dipercaya oleh Alloh Robbul ‘Alamin dan Rosul pembawa Rahmat sehingga gelar As-Shiddiq disematkan padamu, Demi Allah ! setelah wafatnya Nabi aku belum pernah mengumandangkan adzan. ” jawab Bilal. Dan kemudian keduanya menangis sesenggukan.

Datanglah sahabat Umar bin Khottob yang juga mendengar kabar kedatangan Bilal dimakam Rosul. Dan seperti Abu Bakar, dia mengutarakan keinginannya; ” Wahai Bilal, sudikah engkau adzan untuk kami, kami sangat rindu ingin mendengarnya”. Bilal pun memeluk Umar sambil berujar ” Wahai Umar, Sesungguhnya aku tidak bisa memnuhi permintaan Abu Bakar, bagaimana aku mampu mengumandangkan adzan, jika dahulu setelah aku mengumandangkan adzan aku masuk ke kamar Rosul sambil menegur Rosul ‘Waktunya Sholat wahai Rosul’ lalu setelah nanti aku adzan, kepada siapakah aku menegur sholat wahai Umar ?”.

kemudian datanglah hasan (8 thn) dan husein (9 thn), cucu RosuluLloh juga meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan. “sudikah engkau adzan seperti engkau adzan untuk datuk kami, kami sangat merindukan suara adzan mu”. Airmata Bilal semakin deras, tampak di depan matanya pesona RosuluLloh yang terpancar dari kedua cucunya itu. Dia terus menangis sambil berujar :” Bagaimana nanti aku dihadapan Allah di hari kiamat, aku tidak sanggup untuk memenuhi permintaan Abu Bakar dan Umar. Lalu apa yang akan aku ucapkan wahai cucu RosuluLLoh, demi Allah ! yang aku takutkan, jika aku menolak permohonanmu sekarang, nanyi datukmu akan menolak permohonanku di akherat”, untuk kalian aku bisa, tambah Bilal.  Dengan terbata-bata, Bilal mulai mengumandangkan adzan di mimbar, :
Allohu Akbar . . . 3x

(semua yang ada dipasar keluar semua sambil berteriak “Apakah RosuluLloh hidup kembali, Apakah RosuluLLoh bangkit, kami rindu padamu Ya Rosul”)
AshaduanLailaha illaLLoh  . . . 2x

(Anak-anakpun ikut keluar rumah, sambil meratap ” Apakah RosuluLLoh bangkit kembali ?, Wahai Rosul kami sangat merindukanmu”)

Ashaduanna Muhammadan Rosulullloh . . .

(para wanita ikut keluar rumah, sambil meratap ” Apakah RosuluLLoh bangkit kembali ?, Wahai Rosul kami sangat merindukanmu”)

Bilal pun tak kuasa melanjutkannya, dia menangis dan seluruh warga Madinah gemuruh dengan tangisan dimana-mana.

“Begitulah salah satu contoh bukti kecintaan sahabat Rosul yang telah terajut cintanya bersama kecintaannya. Bagaimana dengan kita”
Apakah kita segera mendoakan Rosul (Allohumma Solli wasallim wabarik ‘alaih) setiap disebut Nama Rosul, padahal itu adalah sekecil-kecil bukti cinta kita pada Rosul ?
Lalu dengan alasan apa, kita meminta safa’at Rosul kelak di mahsyar, saat tak seorang Nabi pun berwenang memberi safa’at kecuali Rosululloh. Sedangkan dihati kita, seberapa cinta kita pada RosuluLLoh SAW ?????

Categories: Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: